Nama Lengkapnya David James Archuleta, atau lebih dikenal dengan david archu, namun beberapa dari lainnya mengenalnya dengan sebuatan Kini Archie. Seperi layaknya Justin Bieber musisi yang masih sangat muda ini sudah menetaskan lagu-lagu yang fenomenal. Salah satu singlenya yang begitu hits adalah " crush " yang sempat mendapat predikat platinum pada tahun 2008.
Berangkat dari keluarga seniman, ayah seorang musisi beraliran jazz dan ibu yang berprofesi sebagai penyanyi, darah seni pun mengalir di jiwanya. Awal karirnya dimulai pada kontes ajang pencarian bakat American Idol, tepatnya saat musim ketujuh dia keluar sebagai runner up dengan memperoleh 44 juta suara, kalah 12 juta suara dengan pesaingnya David Cook.
Arch Angels, atau fans David Archuleta berasal dari berbagai belahan dunia, Indonesia salah satunya. karena karyanya yang begitu apiiik dan wajahnya yang unyu-unyu inilah membuat Umi Istiqfaryani , Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi IKIP PGRI Madiun tergila-gila dengan figur imut ini, ia mengaku sebagi arch angels sejak masih duduk dibangku SMA, kini ia selalu mendukung apa saja yang ditempuh sang pujaan hati, seperti yang sedang hangat di bicrakan Archu kini sedang menjadi misionaris " ouhhh David Arculetaaaa, aku disiniiii ...ai love u muach muach...heheh", celotehnya
auliasupport
Inilah David Archuleta
Master Gitar dari Indonesia
Eross Candra biasa disapa Eross adalah salah satu anak band asli Jogja yang lahir pada 3 Juli 1979. Sheila on 7 nama band yang digandrunginya bersama Duta, Adam dan Brian (formasi Baru ). Eross berposisi sebagai gitaris dari grup musik tersebut. gitaris bertalenta, kreatif dan sudah menciptakan lagu-lagu hits dengan lirik yang berbobot. Pada tuhun 2007 dia terjun dalam penggarapan sebuah band sebagai proyeknya juga, yaitu " JAGOSTU".
Mungkin saat ini Eross tenggah sibuk menggarap materi lagu ataupun jadwal tournya bersama Sheila On 7, hmm, oh iya sepertinya para sheila Genk sudah gak sabar nih yaa untuk menanti karya-karya terbaru dan ter- apik sang Musisi, buat Eross ayo kami tunggu hasil rasa petikan gitamu. AAA
Kronologi Singkat Tentang A little Piece
Daniel "Dani" Pedrosa Ramal adalah salah seorang pembalap MotoGP berkebangsaan Spanyol yang saat ini.bersama Casey Stoner di tim REPSOL HONDA, Dani menjadi atlet balap bertubuh mungil, hehe namun skil dan performance-nya ngeri, beberapa penghargaan sudah diraihnya, diantaranya sesaat masih bersama Telefonica Movistar Honda kelas 250 cc tahun 2003-2005 dia mempertahankan titel sebagai juara dunia sampai akhirnya naik level MotoGP
Memang dari segi postur, pembalap yang satu ini mempunyai tubuh yang mungil kalau di bandingkan dengan pembalap laiinya, So gak jadi masalah mempunyai tubuh kecil kalau jiwa juara ada di dada, akan selalu optimis untuk meraih prestasi seperti A little Piece ini
Sukses buat Pedrosa !
Saya ulas ini karna pacar saya suka sekali dengan yang namanya Pedrosa
ya sekian ulasannya, betapa singkatnya ya..: D
See You ...sampai jumpa di Rubrik US ( Ulasan Singkat)...hehehe
Seuntai Laman Untuk Wanitaku
Masih ingatkan dirimu dengan cantiknya senja? pada hamparan luas persawahan di Takeran?
dikala itu suara burung -burung mulai berkicau di saat sore yang mulai beranjak pergi
Kita berdua menikmati lukisan Tuhan di alam ini ...yah seperti itulah rasa ini, dirimu bagaikan sepoi sepoi angin yang mampu meluluhlantahkan daun-daun pepohonan yang kering, seperti rontoknya kepalsuan cinta yang lama ada pada dalam hati ini
Karna ketulusan hatimu
engkau kuatkan kaki- kaki ku untuk tetap berdiri
kau tajamkan mataku untuk menatap jauuuuh kedepan, jauh...jauh kedepan
Disaat diriku membutuhkan apa itu cinta yang tulus,
emosi, perasaan dan senyumanmu berikan rasa aman akan permintaanku
Karna dirimu, rumput kering itu tak akan tumbang oleh topan
Terima Kasihku pada Tuhan yang telah mengirimmu untuk ku saat ini,
Wanitaku,
setelah ibu engkaulah Malaikat yang dititipkan Tuhan untuk menuntun hidup ku ini
19-April-2012
12:38
Di saat matahari sedang membakar rinduku padamu, bersama semilir angin sejuk, cintaku yang akan memelukmu wahai kekasih
Tentang Tim Akademia Joglosemar UIN SUKA
Reportase Tim UINSUKA merupakan kerjasama antara
Harian Joglosemar dan Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam kegiatan reportase. Beranggotakan dari mahasiswa dan mahasiswi UIN SUKA dengan di dampingi dosen-dosennya, tim ini mampu menjadi salah satu penggiat dalam bidang komunikasi media massa di kawasan Jawa Tengah khususnya.
Susunan Tim AKADEMIA UIN SUKA
Pembina: Alip Kunandar, M.Si dan Drs. Bono Setyo, M.Si
PART I
Pemimpin Redaksi: M. Alif Mahmudi
Redaktur Pelaksana: Abd. Salam Min Fadlillah
Reporter: Aulia Alim Ahmadi, Wahyu Budi Utami, Elok Failasufah, Zaidatunni’amah, Birotul Nur Kamilah, Syarif Hidayatullah
Fotografer: Juni Agung Andrianto
PART II
Pemimpin Redaksi: Drara Novia D. A
Redaktur Pelaksana: Johan Saputro
Reporter: Pratiwi Anggun Nurbayani, Eti Purnaningrum, Aulia Alim Ahmadi, Eva Fajarwati, Eni Puji Utami, Abd. Salam Min Fadlillah
Fotografer: Nuruzzaman A
Harian Joglosemar dan Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam kegiatan reportase. Beranggotakan dari mahasiswa dan mahasiswi UIN SUKA dengan di dampingi dosen-dosennya, tim ini mampu menjadi salah satu penggiat dalam bidang komunikasi media massa di kawasan Jawa Tengah khususnya.
Susunan Tim AKADEMIA UIN SUKA
Pembina: Alip Kunandar, M.Si dan Drs. Bono Setyo, M.Si
PART I
Pemimpin Redaksi: M. Alif Mahmudi
Redaktur Pelaksana: Abd. Salam Min Fadlillah
Reporter: Aulia Alim Ahmadi, Wahyu Budi Utami, Elok Failasufah, Zaidatunni’amah, Birotul Nur Kamilah, Syarif Hidayatullah
Fotografer: Juni Agung Andrianto
PART II
Pemimpin Redaksi: Drara Novia D. A
Redaktur Pelaksana: Johan Saputro
Reporter: Pratiwi Anggun Nurbayani, Eti Purnaningrum, Aulia Alim Ahmadi, Eva Fajarwati, Eni Puji Utami, Abd. Salam Min Fadlillah
Fotografer: Nuruzzaman A
Koleksi Buku, dari Hobi Menjadi Bisnis
Buku adalah jendela dunia yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan seseorang. Buku membantu kita dalam segala hal tentang pengetahuan . Misalnya saja, dengan buku kita dapat berwisata tanpa harus mendatangi dan mengunjungi suatu tempat, cukup dengan membaca, memahami dan menikmati isi yang ada di buku. Dengan buku semua hal yang ingin kita ketahui dapat kita peroleh dengan mencari referensi atau judul buku yang kita butuhkan.
Kegiatan membaca dan membeli buku tidak menutup kemungkinan berubah menjadi hobi mengoleksi buku. Dari buku yang sebelumnya hanya iseng-iseng beli satu per satu untuk dibaca sendiri, lama-kelamaan terus bertambah. Setelah koleksi bertambah banyak, apa yang harus dilakukan dengan buku-buku tersebut?
Buku-buku yang tidak terpakai, bisa saja didonasikan atau diberikan kepada pihak lain yang membutuhkan, misalnya perpustakaan desa, atau perpustakaan anak-anak yang tidak mampu. Akan tetapi, jika koleksi buku dianggap sayang untuk didonasikan, bisa saja disusun atau diarahkan menjadi semacam perpustakaan pribadi.
Untuk membuat perpustakaan pribadi, buku bukan hanya dikumpulkan dan ditata rapi dalam suatu ruangan, tetapi memerlukan pengelolaan sendiri. Di dalamnya termasuk cara merawat buku dan identifikasi agar memudahkan ketika kita membutuhkannya.
Hekmi, mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyarankan untuk merawat koleksi buku dengan manajemen perpustakaan mini, misalnya dengan meyusun buku dalam rak khusus. “Kalau bisa, raknya lebih tinggi dari lantai supaya tidak lembab dan mudah rusak, dan tidak dijangkau oleh anak kecil,” katanya. Ia menambahkan agar buku disampul dengan plastik supaya tidak mudah kotor dan terkena debu. Hal lain yang tak kalah penting, adalah membuat katalog untuk mengidentifikasi jenis buku, ”Katalog diperlukan agar lebih mudah ketika mencari sebuah buku,” tambahnya.
Bisnis
Tidak sedikit pencinta buku yang ingin berbagi, sehingga terkadang banyak yang menyalurkan hobinya ini dengan meminjamkan bukunya. Bahkan ada yang kemudian melihatnya sebagai peluang bisnis, yakni dengan membuka persewaan atau rental buku.
Untuk memulai bisnis persewaan buku, bisa diawali dengan pengelolaan sederhana. Hekmi mencontohkan, bila ada yang meminjam, ia menyarankan agar si peminjam meninggalkan identitas dan memberi tenggang waktu pengembalian, “Kalau masa tenggang sudah lewat, beri toleransi waktu selama tiga hari,” ujarnya. Ketika buku yang dipinjamkan sudah melewati batas tenggang, buku harus diambil ke alamat atau tempat tinggal peminjam, “Bila perlu berikan sanksi berupa denda kepada peminjam, misalnya Rp. 500 per buku dan dihitung per hari,” pungkasnya.
Lain halnya dengan Zamiratul Laely yang sudah menekuni bisnis persewaan buku ini dengan lebih serius. Ia mengaku, bisnisnya dimulai dari hobi membaca dan mengoleksi buku. Siapa sangka yang tadinya hanya membeli buku – buku bacaan untuk sekedar hiburan dan mengisi waktu luang, berubah menjadi bisnis yang menjanjikan. Koleksi buku-bukunya, seperti buku fiksi, non fiksi, antologi cerpen, puisi, humor, prosa dan lain-lain disewakan kepada teman-temannya dari ruangan kost yang diubahnya menjadi tempat persewaan, “Antusias penyewa lumayan cukup banyak,” ujarnya.
Awlanya memang tidak mudah dalam menjalankan persewaan bukunya. Kendala yang dihadapi antara lain para peminjam yang tidak tepat waktu dalam mengembalikan buku atau kurangnya koleksi buku yang dimilikinya. Tapi menurutnya, kendala itu tidak menjadi halangan, “Penyewaan buku yang besar saja masih ada kendalanya, apalagi seperti saya yang baru memulai membuka penyewaan buku” kata pemilik persewaan buku Zamie ini.
Sementara itu M. Shalahudin, pemilik rental buku di kawasan Sapen, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta punya alasan lain. Ia membuka rental buku karena menurutnya buku merupakan sumber referensi tertulis yang legal diakui dalam dunia akademis. Oleh karena itu ia tetap optimis rental bukunya tetap eksis ditengah gencarnya arus teknologi informasi seperti internet. Menurutnya, perpustakaan kecil seperti rental buku tidak lantas kehilangan peminatnya. Masih banyak rental buku yang tetap diminati oleh mahasiswa untuk mencari referensi tugas kampus. “Mahasiswa masih banyak yang membutuhkan referensi buku selain yang berasal dari perpustakaan,” kata pemilik rental buku ‘Al Fathin’ ini.
Hal ini dibenarkan oleh M. Rezansyah, bahwa feel dalam mencari ilmu tetap ada pada buku. Entah itu buku yang dipinjam dari perpustakaan maupun buku yang disewa. “Berbeda rasanya apabila belajar di depan komputer dengan langsung dari buku sebagai sumber ilmu. Makanya, saya tetap lebih suka membaca buku, baik yang dipinjam dari perpustakaan, maupun dari rental buku,” kata mahasiswa jurusan teknik elekto UGM ini. “
Sulistyantoro Pangarso, menanggapi positif keberadaan persewaan buku tersebut. Menurutnya, dengan adanya tempat penyewaan atau rental buku ini dapat membantu mahasiswa dalam memperoleh referensi buku tambahan yang didapat selain dari perpustakaan. “Apalagi jika persewaan tersebut berada di daerah yang jauh dari perpustakaan atau akses internet,” kata Wakil Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hanya saja, Sulistyantoro menyarankan adanya kontrol terhadap persewaan semacam ini, terutama terhadap peminjam dari kalangan anak-anak, “Jangan sampai anak kecil bisa meminjam buku bacaan yang sebetulnya untuk orang dewasa!” tutupnya. (Tim UIN Suka)
Kegiatan membaca dan membeli buku tidak menutup kemungkinan berubah menjadi hobi mengoleksi buku. Dari buku yang sebelumnya hanya iseng-iseng beli satu per satu untuk dibaca sendiri, lama-kelamaan terus bertambah. Setelah koleksi bertambah banyak, apa yang harus dilakukan dengan buku-buku tersebut?
Buku-buku yang tidak terpakai, bisa saja didonasikan atau diberikan kepada pihak lain yang membutuhkan, misalnya perpustakaan desa, atau perpustakaan anak-anak yang tidak mampu. Akan tetapi, jika koleksi buku dianggap sayang untuk didonasikan, bisa saja disusun atau diarahkan menjadi semacam perpustakaan pribadi.
Untuk membuat perpustakaan pribadi, buku bukan hanya dikumpulkan dan ditata rapi dalam suatu ruangan, tetapi memerlukan pengelolaan sendiri. Di dalamnya termasuk cara merawat buku dan identifikasi agar memudahkan ketika kita membutuhkannya.
Hekmi, mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyarankan untuk merawat koleksi buku dengan manajemen perpustakaan mini, misalnya dengan meyusun buku dalam rak khusus. “Kalau bisa, raknya lebih tinggi dari lantai supaya tidak lembab dan mudah rusak, dan tidak dijangkau oleh anak kecil,” katanya. Ia menambahkan agar buku disampul dengan plastik supaya tidak mudah kotor dan terkena debu. Hal lain yang tak kalah penting, adalah membuat katalog untuk mengidentifikasi jenis buku, ”Katalog diperlukan agar lebih mudah ketika mencari sebuah buku,” tambahnya.
Bisnis
Tidak sedikit pencinta buku yang ingin berbagi, sehingga terkadang banyak yang menyalurkan hobinya ini dengan meminjamkan bukunya. Bahkan ada yang kemudian melihatnya sebagai peluang bisnis, yakni dengan membuka persewaan atau rental buku.
Untuk memulai bisnis persewaan buku, bisa diawali dengan pengelolaan sederhana. Hekmi mencontohkan, bila ada yang meminjam, ia menyarankan agar si peminjam meninggalkan identitas dan memberi tenggang waktu pengembalian, “Kalau masa tenggang sudah lewat, beri toleransi waktu selama tiga hari,” ujarnya. Ketika buku yang dipinjamkan sudah melewati batas tenggang, buku harus diambil ke alamat atau tempat tinggal peminjam, “Bila perlu berikan sanksi berupa denda kepada peminjam, misalnya Rp. 500 per buku dan dihitung per hari,” pungkasnya.
Lain halnya dengan Zamiratul Laely yang sudah menekuni bisnis persewaan buku ini dengan lebih serius. Ia mengaku, bisnisnya dimulai dari hobi membaca dan mengoleksi buku. Siapa sangka yang tadinya hanya membeli buku – buku bacaan untuk sekedar hiburan dan mengisi waktu luang, berubah menjadi bisnis yang menjanjikan. Koleksi buku-bukunya, seperti buku fiksi, non fiksi, antologi cerpen, puisi, humor, prosa dan lain-lain disewakan kepada teman-temannya dari ruangan kost yang diubahnya menjadi tempat persewaan, “Antusias penyewa lumayan cukup banyak,” ujarnya.
Awlanya memang tidak mudah dalam menjalankan persewaan bukunya. Kendala yang dihadapi antara lain para peminjam yang tidak tepat waktu dalam mengembalikan buku atau kurangnya koleksi buku yang dimilikinya. Tapi menurutnya, kendala itu tidak menjadi halangan, “Penyewaan buku yang besar saja masih ada kendalanya, apalagi seperti saya yang baru memulai membuka penyewaan buku” kata pemilik persewaan buku Zamie ini.
Sementara itu M. Shalahudin, pemilik rental buku di kawasan Sapen, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta punya alasan lain. Ia membuka rental buku karena menurutnya buku merupakan sumber referensi tertulis yang legal diakui dalam dunia akademis. Oleh karena itu ia tetap optimis rental bukunya tetap eksis ditengah gencarnya arus teknologi informasi seperti internet. Menurutnya, perpustakaan kecil seperti rental buku tidak lantas kehilangan peminatnya. Masih banyak rental buku yang tetap diminati oleh mahasiswa untuk mencari referensi tugas kampus. “Mahasiswa masih banyak yang membutuhkan referensi buku selain yang berasal dari perpustakaan,” kata pemilik rental buku ‘Al Fathin’ ini.
Hal ini dibenarkan oleh M. Rezansyah, bahwa feel dalam mencari ilmu tetap ada pada buku. Entah itu buku yang dipinjam dari perpustakaan maupun buku yang disewa. “Berbeda rasanya apabila belajar di depan komputer dengan langsung dari buku sebagai sumber ilmu. Makanya, saya tetap lebih suka membaca buku, baik yang dipinjam dari perpustakaan, maupun dari rental buku,” kata mahasiswa jurusan teknik elekto UGM ini. “
Sulistyantoro Pangarso, menanggapi positif keberadaan persewaan buku tersebut. Menurutnya, dengan adanya tempat penyewaan atau rental buku ini dapat membantu mahasiswa dalam memperoleh referensi buku tambahan yang didapat selain dari perpustakaan. “Apalagi jika persewaan tersebut berada di daerah yang jauh dari perpustakaan atau akses internet,” kata Wakil Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hanya saja, Sulistyantoro menyarankan adanya kontrol terhadap persewaan semacam ini, terutama terhadap peminjam dari kalangan anak-anak, “Jangan sampai anak kecil bisa meminjam buku bacaan yang sebetulnya untuk orang dewasa!” tutupnya. (Tim UIN Suka)
Langganan:
Entri (Atom)


