Mimpi Yang Menenangkan


Aku menghargai sebuah persahabatan, karena aku sendiri pernah merasakan bagitu berkecamuknya rasa permusuhan.

Bersyukur aku buat, aku menikmati disaat-saat terangku setelah gelapku. Saat itu, aku bisa menikmati sakit dalam suka cita. Aku memanfaatkan emosi tinggi itu dengan karya, semua begitu mengalir, ketika mata ini ingin terpejam karena lelah namun otak ini selalu merespon jangan, jangan..jangan terpejam, lalu seseorang menepuk pundak, dialah “obat tidur”, aku menyangkal,..aku sedang mengalami hal yang baik, aku tidak membutuhkanmu, itu tidak untuk ku, aku baik.

Ketika amarah berkawan dengan emosi dalam ritme yang berderap aku mulai kesulitan untuk terpejam, walau untuk sejenak. Beberapa startegi sudah ku lalui, membaca buku, menonton film, menulis, yang kesemuanya bertujuan untuk mengistirahatkan jiwa dan ragaku untuk sejenak, iya, yang paling tepat adalah mencapekkan mata!, but, after all is nothing.

Hikmah pun selalu mengikuti dari belakang, hanya karena manusia terlalu buta dan tidak sabar untuk mengerti maksud Tuhan menginginkan ini semua,..dari ini semua aku mempunyai banyak waktu untuk berkarya, aku mulai giat membaca, yang awalnya aku tidak pernah suka dengan 4 huruf ini “buku”. Aku mulai menulis lagi, meski bukan seorang penulis yang berpengaruh namun aku hanya ingin berkarya lagi bagi duniaku. Yang terpenting adalah mensyukuri rasa pertemanan di dalam kehidupan ku yang tentunya juga menjadi melodi kehidupan setiap makhluk sosial. 

Sahabat Itu Nyata

Teman, sahabat, dan kawan menjadi tambatan jiwa yang beiringan di dalam kehidupan layaknya simponi orkestra yang satu sama lain saling melengkapi. Keluarga adalah hal terkecil, namun cikal bakal sebuah keharmonisan batin. Apabila rusak, apalagi yang harus dipertahankan ? Langitpun tak akan berubah menjadi senja bila belum waktunya, ya mungkin saat ini hal yang terbaik yang bisa aku lakukan hanya bisa berkarya, berkarya dalam tekanan yang membelenggu. Sebenarnya tidak menyita pikiran ku, hanya saja mengurangi keseimbangan hidupku. Biarkan, ku tepiskan keruh dunia ini.

Pesanku, syukuri jalinan pertemanan, persahabatan yang sedang dirasakan, entah suatu saat salah satu diantara kita akan mengalami permusuhan dalam satu wadah yang sama. Ingin ku meleburkan konflik dengan sebuah konflik, biarlah meletus namun selesai. Hmm, namun apalah arti api bila bertemu api, tidak akan menyelesaikan, karena aku air, karena aku benar. Siangku bagaikan malam, malamku terang seakan-akan aku hidup disana, aku cemburu dengan kebiasaanku, normal. Bagai zombie, hidupnya malam, matinya siang dalam pelukan sinar matahari.
Bonus :
Reactions:

0 comments: