Cerita Kehidupan Itu Bernama Ekonomi Cinta


Heri Ramanda Adi Nugraha, orang-orang mengenalnya. Laki-laki galau. Semenjak ditinggal pergi kekasihnya, dia habiskan waktu-waktunya dengan termenung seorang diri sembari melihat daun-daun yang berguguran karna tiupan angin yang kencang di depan rumahnya. Memang baru satu semester Heri dan Cahya Anirmala,  mantan kekasihnya menjalin hubungan namun robeknya semangat hidup dan renyah tawa Heri hilang entah kemana seolah menceritakan begitu dalamnya arti perpisahan yang terjadi.

Heri Ramanda Adi Nugraha, laki-laki berparas tampan, duduk di semester tujuh di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Berasal dari keluarga berada, hanya saja orang tuanya tidak menghendaki kekasih anaknya seperti Cahya dengan alasan ekonomi. Karena, Heri dilahirkan dari golongan darah biru yang bagi keluarganya dia tak pantas mempunyai calon istri yang berbeda jauh dan sekan-akan seperti menafikan cahya sebagai sosok wanita yang dilahirkan oleh zaman yang ditemukan dipinggir jalan yang hidup terlunta-lunta di bawah kolong jembatan.


Berawal dari cinta lokasi, Heri dan Cahya bertemu

Sejuknya lokasi pemakaman Bung Karno di Blitar menjadi saksi bisu bergugurnya kesepian yang selama ini dirasakan Heri. Sesekali Cahya menatap wajah Heri dari kejauhan yang tanpa disadari olehnya Heri pun membalas gerak-gerik curi pandangnya dengan sedikit tersenyum kecil. Heri seolah-olah terlahir sebagai pangeran kodok semenjak saat itu. Kesehariannya berubah, dari biasanya yang acak-acakan dalam berpenampilan menjadi lebih memperhatikan penampilan. how he described the situation at that . .

Semenjak saat itulah Heri dan Cahya menjadi teman yang tidak sekedar teman, dekat sungguh sangat dekat. Bagi Heri, Cahya hal terindah dimatanya. Seseorang yang saat itu mampu mewarnai hati putihnya mulai memaksanya untuk menyatakan apa yang ia rasa. 

“Aku cinta padamu ya, aku juga sayang padamu,
Maukan engkau jadi pacarku?” Singkat dan jelas, karena Heri dilanda kegrogian yang tak bertepi. Menatap mata Cahya pun tidak.
Dijawab sekarang ya? Balas Cahya lembut,
Iya,
Iya, aku mau..

Sejenak waktu menjadi hening, mungkin karena kelas yang dipilih Heri untuk menyatakan perasaaanya adalah kelas yang kosong,..Bingung, malu campur aduk saat itu, itulah kombinasi apa yang dirasakan mereka berdua
Akhirnyaa ...

Heri pun ngeles . .

                        Aku pulang dulu saja ya, aku mau ..
                        Oh iyaa,..

Cahya tersenyum-senyum sendiri setelah Heri meninggalkannya sendiri di ruangan kelas disamping kelas Cahya.
Mereka berdua menjalin hubungan asmara tepat empat bulan setelah kegiatan studi kreatifitasnya di kota Blitar. Hari-hari mereka bak bulan purnama, selalu terang disetiap malam dan bak mentari pagi, selalu sejuk ketika dipagi hari . .
. . 

Long Distance Is Killing Him

Mendapatkan pengalaman cinta lokasi tidak selalu berakhir cepat, atau karna hanya sekedar kekaguman sesaat, namun bagi Heri cinta lokasinya tersebut abadi yang lebih dari sekedar kagum. Entah panah apa yang sehari-hari menyerbu akal dan hatinya hingga yang ada hanya bayangan kekasihnya saja. Dia tulis perjalanan cintanya sampai suatu ketika dia tidak mampu menulis ending dari kisah yang ditulisnya tersebut.

Mempunya kekasih beda angkatan, yaitu adik tingkat, membuat Heri bersikap lebih dewasa dari sebelumnya, mungkin karena merasa dia yang lebih tua daripada kekasihnya, meski hanya berbeda satu semester dari tanggal kelahirannya. Tepatnya masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Sehari-hari bertemu, tidak kurang tidak lebih meski hanya sekedar melihat dari jauh, karena jarak kelas yang tidak begitu dekat. Tukar menukar senyum sampai makan bersama di kantin Mbok So salah satu dari tiga kantin yang ada di SMAN 1 Ponorogo sudah menjadi hal wajib bagi mereka untuk dijalani.

ilustrasi tokoh

Hubungan itu tidak berlangsung mulus, selalu saja ada permasalahan yang datang, sesekali ketika Heri membutuhkan dukungan, topangan dan harapan Cahya hadir memberikan pundaknya untuk bersandar, begitupun Cahya ketika membutuhkan jari-jari untuk menghapus air mata kesedihannya, Heri selalu ada untuknya selama dua tahun mereka bersama. Akan tetapi ada masalah yang begitu dahsyat yang membuat mereka berdua sudah menyerah di tengah jalan. Permasalahan restu orang tua bagi mereka adalah nomor satu sebelum yang lainya. Jalan itu sangat terasa sulit untuk dilalui, Heri berusaha meyakinkan Cahya bahwa mereka bisa bertahan walau keadaannya sudah masuk terlalu prinsip, baginya yang menjalani hidup bukan orang tuanya tetapi mereka berdua.

Dalih ekonomi menjadi penentu masa depannya, kelak dengan siapa, dan  berasal dari manakah yang menjadi sandaran hidupnya masih kabur. Akhirnya, setelah berhasil melewati masa-masa sulitnya mereka tetap bersama meskipun diam-diam Cahya masih menyimpan kekhawatiran tentang masa depannya, apakah dia hanya menjadi teman berbagi Heri tanpa ada kejelasan bahwa kelak akan menjadi satu keluarga yang bahagia. Sempat terjadi pemandangan yang meneguhkan, saat Cahya dan Heri berbicara empat mata di teras rumah nenek Cahya, Cahya yang terisak-isak dengan sesekali mengusap air matanya yang mulai mengalir di kedua pipinya, Heri pun juga tidak kalah sendunya yang hanya mampu diam tertunduk, dengan mata-yang berkaca-kaca.

Aku pikir saat itulah dilema besar sedang terjadi, sebagai seorang laki-laki Heri tidak mampu menangis didepan seseorang yang dikasihinya, dan sudah menjadi watak asli wanita, Cahya tidak bisa membendung perasaan yang meracau itu, yang akhirnya air mata yang keluar  perlahan itu menjadi saksi kegamangan masalah yang sedang dihadapinya. Dan semenjak saat ini aku tidak pernah melihat mereka berdua bersama, makan dikantin berdua, ataupun berangkat dan pulang dari sekolah bersama, hingga sampailah meraka lulus dari studinya di tingkat menengah atas.
tatapan kosong

Bangku kuliah membuat dua insan ini benar-benar terpisah. Perjalanan cinta mereka semakin rumit bahkan kacau, disaat Cahya diketahui sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Heri hanya terdiam, berusaha namun tak mampu...Sosok insan yang elok, berkulit putih, dengan rambut sebahu itu kini telah menjadi lirik-lirik dalam lagunya . .
Sehari-hari dia berjalan tanpa tujuan yang jelas, kesana – kemari hanya sekedar mencari sesuatu yang baru di dalam hidupnya, mungkin dia berfikir dengan seperti itulah dia menemukan kebahagiaannya, meski suatu saat aku berfikir itu hanyalah kebahagiaan semu yang hanya bertahan beberapa saat.



Reactions:

0 comments: