Hari Kasih Sayang di Kota Mati


Jalanan berdebu ditepian jalan adisucipto menghiasi pandanganku ketika memandang kesepian Ambarukmo Plaza dari kejauhan. Biasanya, pusat perbelanjaan di kota Yogyakarta ini tak pernah luput perhatian anakmuda, kini hanya nampak bangunan besar yang kumuh karna gumpalan pasir di area luarnya.

Bukan hanya pusat berbelanjaan, warung makanan dipinggir jalanpun tidak tersentuh, kecuali sentuhan si pemiliknya. Malam pertama bencana erupsi Gunung Kelud ini memaksa orang-orang mencari makanan ditempat yang tertutup. Malam itu banyak orang yang mencari warung cepat saji seperti Olive dan Popeye ataupun nasi padang. Tempat-tempat tersebut memiliki tempat yang cukup bersih dari debu karena ruangannya yang tertutup.

Sebelumnya, pagi yang masih ranum, ketika butiran debu Kelud tiba di kota pelajar, suasana kontrakan Imron di Kotagede sudah sepi. Kontrakan mahasiswa Universitas Islam negeri (UIN) Sunan Kalijaga asal Magelang tersebut ditinggal beberapa penghuninya semenjak erupsinya Kelud muncul dipermukaan bumi. Hanya Imron, Alip dan ularnya betinanya, Firqoh. 

Tidak pernah disangka bagi anak-anak kontrakan akan disambut oleh debu-debu dari Kediri, Sontak saja, kepanikan mulai merundung dibenak masing-masing anak. Kepanikan akan kabar adik perempuannya dirumah, isu-isu bangkitnya Gunung Merapi karena telah telah di Ping saudaranya di Kediri, ataupun bagimana cara mereka hang out dengan kekasihnya, yang kebetulan bencana ini terjadi di tanggal 14 Februari 2014.

Tanggal 14 Februari bagi anak-anak muda dianggap sebagai hari yang sakral untuk mengungkapkan kasih sayang kepada kekasih, orang tua maupun teman. Begitupun Alip, anak semester 10 yang masih saja gemar dengan ular-ular peliharaanya itu merasa hari kasih sayang ini sangat istimewa, karena di tahun 2014 ini kasih sayangnya benar-benar di curahkan seutuhnya di dalam rumah bersama ularnya. Dia memilih tinggal di dalam rumah dengannya. Sendu terasa melihat kisah cintanya di hari itu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bencana Kelud benar-benar membuat semua orang mencari aman.

Ilustrasi - Internet


Namun bagi sebagian orang, memaknai bencana bukan lalu berdiam diri di dalam rumah untuk menghindari debu-debu vulkanik yang setia memilukan mata, akan tetapi rasa penasaran yang besar dan kebosanan menobatkan diri mereka layaknya wistawan bencana, “ayo, metu-metu ndelok kahanan njobo cah, jeleh ng ngumah terus je,” lontar Andra, mahasiswa asal Boyolali yang nekat menerobos pekatnya jalanan dari Boyolali menuju kontrakannya. Andra juga sebagai salah satu penghuni di kontrakan Magelang yang tidak bisa berlama-lama diam, dipikirannya hanya keluar dari zona nyaman. Benar saja, dia keluar untuk sekedar merasakan sensasi kota mati yang sedang terjadi.

Jangkauan bencana Erupsi Gunung Kelud begitu menggurita, pelbagai daerah ikut merasakan debu kiriman Kelud. Begitupun tak luput bagi kota Yogyakarta. Sepi, asing, hembusan butiran debu vulkanik yang sahut menyahut, pengendara yang berhati-hati menjadi gambaran yang pasti di pagi yang masih ranum di depan kontrakan. Yogyakarta pagi itu benar-benar seperti kota mati.



Reactions:

0 comments: