Polemik Kebebasan Suara Hati Jurnalis

Kegiatan jurnalisme sangatlah humanis. Setiap jurnalis mempunyai hak untuk berfikir bebas dan berfikir out of the box dalam menyuarakan aspirasinya. Seperti yang tertera pada poin ke sembilan dalam Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach bahwa, jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya. Suara hati seorang jurnalis yang mampu disuarakan akan memberikan kesinergian yang lebih baik bagi dirinya pribadi maupun perusahaan yang menaunginya.

Tentu, seorang jurnalis juga memiliki pandangan-pandangan pribadi terhadap profesi yang sedang ia jalani. Oleh karenanya, rapat redaksi menjadi salah satu wadah yang pas untuk menyatukan gagasan-gagasan mereka. Mungkin bukan hanya melalui kegiatan formal seperti rapat saja, dalam kegiatan non formal pun, bila dirasa efektif untuk bersuara itu lebih baik untuk disampaikan. Harapannya agar tercapai sebuah paradigma yang bisa disepakati bersama tanpa ada yang merasa terbebani.

Ilustrasi Ricuh


Dahulu, zaman orde baru, karya-karya jurnalisme itu sangat sedikit sekali yang selaras dengan pemikiran bebas para jurnalis. Pemikiran bebas jurnalis yang dimaksud disini tetap pada poros kebenaran yang mempresentasikan rakyat. Namun apa yang terjadi, karena kebebasan pers saat itu tidak diberikan dalam kegiatan jurnalisme, berita-berita yang berkembang di masyarakat kurang memiliki kontrol terhadap pemerintah, berbeda dengan saat ini, media benar-benar memili kebebasan untuk berekspresi di bidangnya.

Namun keadaan saat ini justru tidak sesuai harapan Sembilan Elemen tersebut atau mungkin lebih parah. Jurnalis media cetak, radio, maupun TV masa kini, cenderung menjadikan kebebasan sebagai tameng untuk bersuara. Alhasil, munculah jurnalisme gosip sebagai contoh kebebasan yang tak humanis,. Kebebasan pers seharusnya menjadikan suara-suara hati para jurnalis sesuai cerminan suara rakyat bukan malah meresahkan rakyat. Karena pada dasarnya setiap rakyat mempunyai ruang privasi yang bukan menjadi bahan jurnalisme. Jelas jurnalisme gosip tidaklah humanis meskipun dengan dalih-dalih memiliki daya tarik infotainment.

Tidak terkecuali, sebagai seorang jurnalis di media apapun harus menjadikan porsi kebebasan menjadi sebuah alat yang membawa manfaat bagi rakyat. Mungkin tidak semua jurnalis masa kini yang menyalahgunakan makna kebebasan ini namun perlu digaris bawahi, yang benar-benar sesuai dengan jalur kebenaran tidaklah banyak.
Reactions:

0 comments: