Jangan Menyuruh Perokok Berhenti Merokok

Penasaran kenapa?

Kita tahu, dunia marketing era 21 ini sudah benar2 menghalalkan segala cara


Ada Iklan rokok dengan slogannya, “mending tersesat daripada nanya” itu bukan pendidikan yang bagus, meskipun memiliki dua tujuan layaknya dua sisi mata uang, yang satu mengajarkan kebebasan, satunya lagi memberikan pelajaran yang baru, karena dengan tersesat pasti akan lebih tahu banyak daripada yang tidak tersesat.

Ulasan ini hanya sekedar opini, jadi setiap orang yang membaca ini berhak memiliki pandangan yang berbeda tentang iklan diatas, tapi disini saya tidak membahas maksud dan tujuan yang pasti dari iklann tersebut.



Let’s go to the point, dude


Biarlah yang sudah merokok tetap merokok, doakan saja dan beri mereka himbauan tentang keuntungan yang didapatkan bila berhenti merokok, tapi jangan sampai melarang mereka

Coba bayangkan, kita menyuruh perokok untuk berhenti merokok itu sangatlah sulit bukan tidak bisa, namun itu bukan solusi yang bijak, akan tetapi jangan menyuruh perokok untuk berhenti merokok namun cegahlah adanya perokok baru.

Takiya Genji - Ilustrasi (Internet)


Namun, disaat ide itu terkesan bijak, la kog muncul rokok elektrik, rokok sehat, atau sejenisnya yang menurut saya merangsang calon perokok baru untuk mencoba merokok, dengan dalih rokok elektrik tidak terlalu riskan bla bla, ...


Mari berfikir sejenak, merokok itu mungkin menjadi baik kalau sudah kecanduan, namun lebih baik lagi kalau meningggalkan rokok dan sama sekali tidak merokok


Rokok itu merugikan perokok dan orang-orang yang berada disampingnya, mari berfikir wahai manusia, wahai pemilik kebijakan rokok, MASA DEPAN BANGSA INI ada pada PEMUDANYA, jangan sampai PEMUDAnya terbiasa bal bul bal bul, dengan wolesnya, apalagi uang itu masih minta orang tua. Meskipun sudah memiliki penghasilan sendiri lebih baik tidak dibelikan rokok. Saya tidak mengecam hak asasi untuk merokok, tetapi saya tidak ingin adanya perokok baru.



Reactions:

0 comments: