Cerita dari Generasi 90an

Generasi yang masih menganggap TV adalah gadget yang paling istimewa, ahahaha, menyenangkan ya (wahai generasi gue) hehehe.
Kemarnin saya bertemu dengan seorang Satpam, tampak tegap tubuhnya, dengan senyumnya yang kaku, kulit hitam mutlak, "oh noooo, " batinku bergumam.

"Hey mas kalau parkir jangan disitu, kalau lewat arah sini parkirnya disebelah sini ya", sambil menunjuk di bagian sisi pos jaganya, 

YA, jawabku simple

Sudahlah, karna kami sudah membuka obrolan apa salahnya dilanjutin obrolannya, aku samperin dia, aku masuk di pos jaganya sambil memandangi lalu lalang Mahasiswa UNIDA yang izin ingin keluar, berbelanja, foto copy, bahkan sampai ngopi.

Satpam itu namanya, bla bla bla (tidak mungkin saya sebutkan karna saya belum ijin wkwkwk) ternyata dia teman kecilku, meskipun saya lupa wajahnya, dia  pun juga lupa dengan saya,"saiki awakmu wes guedi mas" sahutnya lugas setelah kita berkenalan (red : kembali).

Haha, iyo, tandasku.

"Aku mbiyen tau ndelok tipi ng mahmu, koe sek cilik ... . . .. . . cerita satpam itu

Yah televisi saat itu bagi sebagian orang (termasuk ane dan kawan-kawan) jadi hal yang benar-benar Wow,...

Malam memang benar-benar semakin larut, tidak terasa banyak informasi yang saya peroleh dari obrolan itu, Subhanalloh, ini benar-benar rizki yang tidak diduga-duga, bertemu dengan teman lama, ilmu-ilmu baru yang bermanfaat, hebat !

Dengan obrolan kami yang sangat asik, yang tidak bisa saya jentreng-kan, ada satu hal yang muncul dibenak saya, generasi kami adalah Generasi Transisi.

Cerita diatas hanya prolog untuk opiniku tentang generasi manusia 90an sebelum masuk ditahun milenium 2000an, saat itu kami semua masih berumur 8 sampai 10 tahun . .. . . . 


Hiburan Kami

Generasi kami sangat mensyukuri hari minggu dengan segala keasyikan-Nya--- acaranya anak kecil, acaranya mendidik imajinasi yang wajar, bukankan hari minggu yang asyik itu dewasa ini cuman menjadi dongeng bagi kita dan bagi adik2 kita?:)


"Jangan pernah kau halangi inginku, kau halangi diriku, tuk rasakan yang dulu ada"


Generasi kami benar-benar menikmati menyanyi riang dimanapun kami berada tanpa perlu room karaoke seperti saat ini, tidak ada hedonisme besar-besaran yang terjadi, beda sungguh beda

Menikamti sehatnya bermain kelereng karna berpindah-pindah lokasi tanpa rasa lelah karena hati senang, bisa merasakan kalah dan menang di setiap kompetisi maupun mainan tanpa pek-pek-an kelereng, tidak seperti sekarang yang bermain kelereng tanpa melatih intuisi, melatih gerak badan dan sosialisasi dengen teman, karna hanya sebatas permainan gugel pley.

Generasi itu generasi kecil yang sudah sangat bangga memiliki sepeda win cekel, tiger, lalu dimodif stang-nya hingga memiliki tanduk, dikasih kunci kabel, sangat simple bagi anak kecil dizaman itu, bukan anak kecil zaman sekarang yang sudah mahir dengan handphone-nya yang sejak awal masa keemasan umurnya tidak digunakan sebagai pembentukan karakter sosial, intuisi kepekaan dsb melainkan asik sendiri dengan dunianya, benar- benar masyarakat dunia ini sudah bergeser nilai sosialnya.

Masa itu, kami mengalami masa transisi dari yang tiada menjadi ada, perjalanan OS CPU dari tahun ke tahun, menikmati size MB ke GB flashdisk, dari maraknya warnet sampai wifi, menimati chatting MIRc dan Yahoo Messengger, sesekali Skype-an,

Saya pribadi tidak terlalu bangga dengan masa transisi ini, saya hanya rindu dengan tatanan masyarakat yang tidak bergantung pada teknologi, saya ingin setiap orang memanusiakan manusia, adanya humanisme bagi seluruh dunia ini sangat saya rindukan, walau memang sangat sulit terjadi aku tetap menginginkan, 


Globalisasi & Teknologi

Zaman itu mainan kertas sangat populer, kertas buku tulis bagian tengah diambil lalu di lipat-lipat sedemikian rupa tergantung selera kreatif masing-masing anak, wooo seruuu sekali itu, ya meski buku tulisnya cepet habis buklan untuk belajar akademik :D. Sekarang bermain handphone, isinya macam-macam, ada sosial media, ada  lalu saya ndak heran bila FB lebih mengenal anak daripada oraan tuanya, anak lebih nyaman dengan teman maya-nya daripada orang tuanya.

Saya tidak anti perubahan, saya pro perubahan, saya tidak anti teknologi saya sangat mencintai teknologi namun perubahan yang lebih baik, bukan yang buruk, dan teknologi yang menghumanisasikan keberadaan dan tugas utama manusia sebagai khalifah bukan yang menjatuhkan, mengontrol dan merusakan manusia.

Pengaruh global yang sudah mewabah ikut menjangkiti pola pikir masyarakat agraris di Indonesia, gaya hidup serba teknologi di luar negeri dibawa ke Indonesia dengan cara yang tidak bijak. karna mengejar permintaan pasar, sawah padi yang dulunya hanya panen 2 kali setahun menjadi 4 kali karena pemanfaatan pupuk-pupuk kimia yang menurut saya kualitasnya jauh berbeda dari yang 2 kali setahun dari segi kualitasnya itu hanya contoh kecil dari hal yang sangat mempengaruhi sistem di masyarakat, karena masyarakat akan saling berkompetisi sedikit memikirakan akan kemaslahatan yang dihasilkan dari kompetisinya.

Berlomba-lomba untuk memberikan hasi panen, dengan kualitas cepat panen, belum tentu baik dari sastu sisi, karna apa yang dihasilkan bisa saja membahayakan bagi manusia meski pada jangka panjang. Mari sejenak kita berfikir, bisakah kita sehat bila yang kita makan berawal dari zat kimia, meskipun sudah ternatralisir dari tanah. Kita berfikir makanan kita alami, lantas di zaman serba instan ini apakah ada yang benar-benar alami? Ada, tapi tidak di tempat kita, Ada, tapi ditempat dimana mereka menolak kemajuan, menolak teknologi, disana ada keharmonisan keluarga, dimana ada makanan yang seadanya tapi benar-benar dari alam dan disyukurinya, lalu kita ingin seperti mereka? Saya pikir kita semua bilang iya, TAPI tidak meninggalkan teknologi, karna kita hidup di era teknologi, karna kita membutuhkan teknologi, dan globalisasi berawal dari majunya teknologi yang ditafsirkan SALAH bagi penafsirnya, teknologi tidak pernah salah, niat pencetus dan pemahaman pengguna teknologilah yang saat ini sering salah memahaminya.

Beberapa dari kita, sedikit-sedikit telpon, wa, bbm, sms, padahal jaraknya untuk bertemu, menyampaikan informasi atau sekedar memberikan file (soft copy) hanya beberapa langkah pun berbeda ruang. Tiodak salah memang, itulah manfaat teknologi memudahkan urusan manusia, sehingga keberadaan teknologi sangatlah penting bagi manusia yang kewolesen. Memanfaatkan teknologi tidak salah bila memang dibutuhkan, misalnya mengirim file.jpg ke rekan kerja di Jakarta atau ditempat yang sangat jauh, ataupun ditempat yang dekat dengan waktu yang harus cepat dan keadaan kita tidak memungkinkan untuk mengantarkan langsung seketika itu.

Ayo ahli teknologi, buatlah teknologi yang bisa membuat hidup manusia ini semakin maju tanpa kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang meyakini Tuhan sebagai penentu kemudahan manusia bukan Teknologi. Buatlah Teknologi yang membuat Manusia lebih memiliki rasa sosial (bukan di sosial media saja), dan beradab.



Nekeran - Internet


Maybe, Future Generation will never know, What a nice, unique, and wonderfull relationship and humanity
Ciaaaaaaa- Internet


Salam dari saya, dari sebagian orang 90an yang benar-benar bisa menikmati hidup, terima kasih Tuhan.

Reactions:

0 comments: