Positif dan Negatifnya Kampus di Lingkungan Kita



Reportasi - Keberadaan kampus ternyata membawa dampak yang bermacam-macam di lingkungan masyarakat. Dampak sosial, agama dan ekonomi menjadi tiga aspek yang didapatkan masyarakat dari adanya kampus di lingkungannya.

Surajim, 45, Ketua RW Kelurahan Kartosuro, Kecamatan Kartosuro ini mengungkapkan, perkembangan lingkungan Kartosuro terjadi ketika salah satu kampus berada di tengah-tengah masyarakat. “Berbagai masalah sosial itu timbul ketika mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat,” jelas dia.


Kampus - Internet

Masih menurut dia, perkembangan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik semenjak adanya kampus. “Setelah adanya Kampus, banyak warga yang menanam modal di lingkungan ini, untuk membuat kos dan membuka usaha warung makan. Kemarin sempat ada wacana pemindahan ke tempat yang baru, kalau hal itu terjadi warung makanan dan kos-kosan sepi. Apalagi terlanjur banyak penanaman modal di lingkungan ini, sama saja buang uang dong,” kata Surajim yang saat ini diamanati menjadi ketua di Kel. Kartosuro Kec. Kartosuro.

Muhammad Rahman Saleh, 30, penjual pulsa di sekitar Kampus tersebut merasakan dampak perekonomian di wilayah kampus. ”Rata-rata pembeli dari mahasiswa, [tapi] rejeki sudah ada yang mengatur, wallahua’lam, tutur dia sambil tersenyum.

Selain bisnis pulsa, keberadaan warnet di sekitar kampus juga mengalami hal yang sama. Rendra, 22, Operator Warnet Goonet, adanya kampus membuat warnetnya selalu ramai pengunjung. “Cukup ramai, pengunjung disini rata-rata dari Mahasiswa dan beberapa anak-anak SMA. Sekarang kondisinya sepi, kampus masih libur,” jelas dia.

Hal yang sama juga dirasakan Jeki, 46, penjual nasi goreng yang dalam sehari dapat menghabiskan 12 kg beras untuk usahanya. “Kampus libur dua bulan, sekarang [masak] dua kg beras saja gak habis. Kalau hari-hari masuk 12 kg [beras] habis. Omset saya menurun drastis kalau musim libur,” ujar dia dengan tatapan kosong memandang jauhnya jalan di depan warung kecilnya.

Warung Bu Jeki ramai karena mahasiswa. Menurut dia, warung tersebut sering digunakan mahasiswa untuk berkumpul. “zaman belum ada kampus ya sepi,” jelas Bu Jeki sembari bercerita kepada AAA perihal keadaan lingkungan Kartosuro sebelum ada Kampus.

Saat ditanya terkait dampak negatif yang ditimbulkan kampus bagi lingkungan sekitar, Surajim termenung. “Setiap lingkungan kampus, masalahnya sama. Mulai dari kasus pencurian, penggrebekan  kos, dan semuanya itu karena kurang hormatnya mahasiswa. Ada peribahasa, Dimana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung,” jawab dia.

“Anak-anak kampus belum bisa bersatu dengan warga setempat. Banyak keluhan dari masyarakat karena etika mereka. Kebut-kebutan saat mengendarai motor dilingkungan warga dan jam berkunjung teman lawan jenis yang melewati batas di beberapa kos adalah hal yang sering menimbulkan keresahan dari masyarakat,” tambah dia

“Saya baru dua tahun menjadi RW disini sudah empat kali menggrebek kos-kosan. Selain itu, masalah kriminal juga sering terjadi. Beberapa hari yang lalu, ada yang lapor kehilangan barang. Namun anehnya, tidak ada pintu yang dibobol, kami menduga pelaku pencurian teman dekatnya. “Lha, kemarin di masjid [Al-Fatah] sudah kejadian lagi, laptop bagus dan hape kaleh [dua],” ungkap dia dengan menggelengkan kepala.


Layar Laptop Retak Urungkan Niat Pencuri

Di sisi lain, masalah kriminal masih menghantui warga dengan kasus pencurian yang sering terjadi. Kamis (6/3) terjadi pencurian laptop, dompet dan dua buah handphone milik ta’mir Masjid Al Fatah Kartosuro. Pencurian ini terjadi saat korban menjalankan sholat maghrib berjamaah.

“Harapan saya hanya dompet beserta isinya kembali, setidaknya STNK, kalau SIM kan mudah diurus. STNK itu penting, masalahnya itu STNK motor ibu saya,” ungkap Indra Prasetyo, 21, korban pencurian dompet dan handphone sambil menunjuk motor yang terparkir di depan Masjid Al Fatah.

Dia bercerita, ada STNK, SIM, KTP dan uang Rp100.000 di dalam dompetnya. Sambil menunjukkan hape barunya, Indra berkali-kali mengusap wajahnya. Mahasiswa asal Cirebon tersebut terlihat pasrah. “Sekitar jam 22.00 WIB (6/3) saya lapor ke Polres Kartosuro,” jelas dia saat diwawancarai AAA di Masjid Al Fatah (8/3) siang. 

Beruntung, dia tidak kehilangan laptop miliknya. Pasalnya, laptop milik rekannya raib bersama handphone dan dompetnya. “Padahal letak laptop saya ada di dekat laptop teman saya, mungkin karena layarnya sudah retak enggak diambil sama pencuri, ujar Mahasiswa Fakultas Ushuludin Jurusan Tafsir Hadist STAIN Surakarta.

Menurut, Jimin, 60, laki-laki senja yang sehari-hari menjadi kuli bangunan, penyebab sering terjadinya kasus pencurian dilingkungan Kartosuro adalah adanya kampus. “Dahulu tidak ada, namun semenjak ada kampus sering kejadian,” ungkap dia sambil meletakkan paculnya untuk duduk sejenak di samping AAA setelah mengaduk semen dengan pasir ayakan yang berada disampingnya.

D tengah-tengah dampak negatif yang terjadi, dia berharap kepada mahasiswa agar lebih aktif mengikuti kegiatan sosial dan forum-forum keagamaan. “Saya berharap agar mereka [mahasiswa] meningkatkan keaktifannya di instansi ke RT-an, forum-forum agama. Dengan aktifnya mahasiswa berbaur bersama masyarakat, ilmu yang diperoleh di perkuliahan bisa dibagikan dengan warga. Masalah agama contohnya, kita bisa tahu pemikiran luas dari mahasiswa, kalau dari warga rata-rata dari pondok” tutur dia pelan.




Reactions:

0 comments: