Awas Bahaya Sosial Media

Ketika Media Sosial Lebih Mengenal Anak Kita

"Hendaklah di antara kalian mengadukan segala urusannya hanya kepada Allah saja, walaupun hanya tali sandal yang putus." (HR. Tirmidzi).

Media sosial sangat identik dengan kehidupan remaja, mereka yang masih ingin diakui keeksistensian dirinya seringkali mencari pengakuan di dunia maya (media sosial). Akibatnya, banyak anak yang enggan curhat kepada orang tuanya, karena ternyata kebutuhan itu sudah terpenuhi dengan adanya media sosial. Anak-anak lebih nyaman ketika curhat di facebook, twitter, path dan media sosial lainnya daripada kepada orang tuanya.

Saat mencari jati dirinya, anak akan cenderung mencari tempat bersandar yang tidak pernah menolaknya, tidak pernah melarangnya, dan memarahinya. Seperti media sosial, mereka menjadi wadah, tidak memberikan solusi yang pasti, namun juga tidak banyak yang malah mendapatkan timbal balik yang tidak baik, seperti di beri saran yang menyeleweng dari sesama teman di media sosial atau malah di bully karena membagikan hal yang tidak pantas dibagikan.

Ini menjadi tugas besar bagi orang tua di era keterbukaan informasi yang semakin tak terkontrol, bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak untuk “banyak” berbagi cerita. Sehingga orang tua benar-benar menjadi orang tua yang seperti seharusnya, orang tua yang mengayomi anaknya, menjadi problem solver disetiap masalah-masalah yang timbul seiring pertumbuhannya, sampai menjadi teman yang akrab saat mereka mencari jati dirinya.

Sehingga, untuk membangun karakter yang baik bagi anak adalah dimulai dengan memposisikan orang tua sebagai “teman” yang nyaman baginya, agar kita mengerti apa yang dibutuhkan dan dirasakan anak bukan sosial media.

Jangan mudah menyalahkan anak bila anak sedang keliru, jangan mudah menghakiminya ketika salah, karna sejatinya, anak tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua.

Perlunya Literasi Media

Fenomena sosial media benar-benar menghapus sekat-sekat privasi manusia, bagaimana tidak, segala aktivitas yang dilakukan bisa jadi menjadi perbincangan banyak orang. Hal ini bisa jadi menimbulkan riya’, kecemburuan sosial ataupun ujub yang berlebih. Meskipun begitu, tidak semua keterbukaan itu baik, karna memang ada beberapa hal di dalam hidup kita memerlukan ruang tersendiri.

Nabi Ya'kub adalah salah-satu Nabi yg diuji banyak kesedihan. Maka saat ditanya bagaimana dia menyikapi ujian tersebut, “Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Bahagia - Internet

Banyak anak yang salah dalam pergaulan di dunia mayanya. Cara bersosial medianya yang tak terkontrol, hanya mengikuti hawa nafsunya/ kesenangannya menjadikan anak lupa, bahwa seharusnya setiap anak juga harus memulai bijak dalam menggunakannya. Apa yang memang layak di bagikan hingga kepada siapa harus dibagikan haruslah benar-benar diperhatikan.

Sehingga, perlu adanya pendidikan dalam meliterasi media bagi kita semua, tidak hanya untuk anak muda, karna era teknologi ini benar-benar hampir membuat semua manusia cukup tergantung dengan media sosial di dunia maya.


Bila ingin diakui dan privasinya tetap aman lebih baik di curhatkan kepada Sang Maha Penyayang, itu jauh lebih aman, Lalu masihkah sulit untuk kita tidak curhat di sosial media? Padahal Dia, menunggu kita, menunggu nama kecil kita muncul di daftar tamu yang sudah di sediakan oleh-Nya.
Reactions:

0 comments: