Pencitraan

Pada dasarnya untuk membangun sebuah image / pencitraan yang bagus bukan melalui pembangunan luarannya saja. Pembangunan luaran atau fisik bisa dijalankan sambil berjalan, tetapi membangun karakter sebuah pribadi ataupun institusi memerlukan proses sejak awal dan sepanjang waktu. Karena itulah, mementingkan karakter diri lebih penting daripada hanya mendahulukan luarannya saja dalam membentuk image.

Fenomena "proyek" yang ujung-ujungnya duit telah membuat kebijakan-kebijakan yang menghalalkan segala cara agar proyek yang ada berhasil dilaksanakan. Dengan terlaksana kebijakan tersebut, makan permainan mafia-mafia didalamnyapun juga bak pencuri mendapatkan rumah dalam keadaan kosong tanpa majikan.

Tulisan ini berawal dari salah satu keprihatinan saya, ketika melihat salah satu institusi pemerintah yang bergerak dalam bidang kesejahteraan di kota ini, membuat kebijakan yang terkesan memboroskan anggaran negara dengan memindahkan institusi peerintah tersebut dari bangunan lama dengan bangunan baru. Bukan memperbaikan bangunan lama, tetapi lebih memilih membeli tanan baru, dengan membangun gedung yang megah, tetapi tidak mengutamakan fasilitas karakter pelayanan yang baik, seperti yang dicerminkan tmpilan luarnya.

Akhirnya, selang beberapa tahun setelah gedung ini berdiri, betul jualah ungkapan bahwa "jangan menilai sesuatu dari covernya (tampilannya)". Gedung yang dibanggakan oleh sebagian atau mungkin segenap jajaran dinas yang membidangi terbangunnya gedung tersebut atau beberapa oknum yang bermain di dalamnya tersebut digoncangkan dengan kabar tentang pelayanan yang kurang baik terhadap pelanggan yang datang hingga sruktur bangunan yang baru beres berdiri 2 atau 3 tahun ini sudah mengalami keretakan bangunan.

Lalu, munculah intepretasi saya, dalam kasus ini, apakah sebegitu penting tampilan luar dibanding kualitas dari dalam hingga akhirnya mengorbankan mutu pelayanan hingga pemborosan anggaran negara yang dimainkan oleh mafia bintang 3 ini. Apakah tidak lebih baik anggaran itu untuk membeli alat-alat yang paling bagus (yangr berkaitan dengan institusi ini), untuk dana rekrutmen karyawan dengan input yang baik yang dengannya diharapkan mendapatkan output yang baik.



Tidak Tahu


Saya memang tidak mengetahui pasti duduk permasalahan akan kasus ini, tapi setidaknya,, ada naruasumber yang kuat dan berpengaruh dikota ini yang 95 persen mengetahui sekali permasalahan terjadi (dan sebelumnya saya akan memburamkan nama institusi, nama narasumber, dan kota pada tulisan ini).

Orang ini berujar yang tidak lebih tidak kurang, "semua proyek yang sudah dibangun ini merupakan permainan mafia, data-data saya ada semua,  untuk mengusut semua orang-orang dibalik layar ini. (data wawancara yang terjadi tidak saya ceritkan sepenuhnya, biarlah informasi yang ada untuk bahan renungan pribadi, selain memang kasus ini belum bisa (bukan tidak) diusut, juga karena kasus ini telah menggurita di sektor-sektor terkait, sangat sulit bagi saya dan orang-orang yang tidak memiiki keberanian secara langsung, dan hanya mampu menulis dengan tulisan yang juga tidak begitu tajam ini). Dalam benak saya, saya mmenggumam, semoga bapak diberi kemampuan lahir batin untuk segera menyelesaikan kasus ini.

Renungan saya tidak berhenti hanya sekedar menulis, setelah saya ditakdirkan untuk bekerja di institusi yang sama, yakni kompetitornya di bidang kesejahteraannya, saya terus berjuang untuk membangun SDM yang kuat sebelum mengadakan pembentukan-pembentukan fisik yang bagus. Saat saya masih diberi kesempatan untuk menduduki posisi dibagain kepegawaian, sehingga saya tetap memperjuangkan kebijakan yang baik untuk karyawan, karna ini adalah amanah yang nantinya akan mendatangkan image yang baik dari dalam yang semoga akan berdampak pada luaran yang bagus, minimal dari persepsi mayarakat dan kepuasan yang diperoleh.

Untuk masalah bangunan pasti akan diperoleh, karena image yang baik akan menghasilkan brand awarness di kalangan khalayak dan membuat fungsi marketing secara sendirinya., sehingga pemasukan secara materi pun secara tidak "disadari" akan memberikan sumbangsih terbentuknya gedung yang megah selain juga memiliki SDM yang baik.

Ini menunjukkan bahwa, perbaikan dari dalam lebih dulu dimaksimalkan daripada pembentukan luaran, layaknya manusia, perbaiki akhlaknya dulu baru kecantikan luarnya, jangan terbalik, mementingkan kecantikan luarnya saja, namun moralnya morat-marit, seperti yang terjadi pada pemuda pemudi masa kini, korban mode yang selalu berusaha mengikuti trend, tetapi melupakan keapikan moral dan soft skill dalam kehidupan yang berguna bagi kesuksesannya di masa depan.


Intermezzo


Apapun itu, bila terlalu membanggakan kemegahan luaran akan melupakan kualitas dari dalam sehingga membuat semua kacau balau, seperti keadaan gedung yang saya ulas diatas, gedungnya megah tapi kualitas pelayanannya kurang excellent, belum lagi kondisi gedung yang sudah sedikit rusak mungkin karena niat awal bukan menjadikan semua ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik tetapi untuk permainan, permainan ber ton-ton semen, berkubik-kubik bata, hingga ber rit rit pasir. Ataupun pemuda - pemudi masa kini yang sering membanggakan kecantikan luarannya saja biasanya akan lupa kecantikan dalam dirinya akan kurang baik kehidupannya, terjadi kasus pelecehan, terjadi kasus pencurian karena memakai perhiasan yang tidak wajar banyaknya, melakukan oplas seperti yang dilakukan orang-orang korea yang tidak sedikit yang gagal dan malah merusak pemberian Indah Tuhan dan kasus-kasus yang lain yang membahayakan bagi pribadinya.

akhir kata, saya mengajak semua pembaca untuk merubah mindset, bahwa bukanlah kecantikan luaran yang akan benar-benar bermanffat, akan tetapi melalui kecantikan dari dallamlah kemanfaatan itu berawal, Mari berbenah
Good Inside, fresh Outside
Reactions:

0 comments: