Demo Menurut Perspektif Komunikasi Politik

Demo adalah sebuah hak konstitusional setiap warga negara yang berada di sebuah negara yang bersistem  “demokrasi”. Hakikat Demo adalah menimbukan efek opini publik yang nantinya memberikan kesan atau citra yang dapat digunakan sebagai senjata untuk menggiring kebijakan publik.

Dalam disiplin Ilmu Komunikasi disebutkan ada beberapa ranah cara pesan yang disampaikan komunikator mampu diterima secara efektif oleh penerima pesan, salah satunya dengan silabus Komunikasi Politik.

Komunikasi Politik ini kemudian mewabah menjadi ilmu yang disadari atau tidak disadari hampir setiap manusia menerapkannya. Hal sepele yang hampir dialami setiap anak kecil ketika dia meminta uang jajan kepada orang tuanya, sang anak kecil akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya tersebut,  dan selanjutnya menggunakan segala caranya itu disebut sebuah terapan atau aktivitas komunikasi politik.


Demo Damai 4 November


Ini hanya curhatan “Gedek” sang penulis, saya sama sekali tidak anti non pribumi, dan juga sama sekali tidak mengakui atau menghargai sampai anti Non Muslim. Ini semua termasuk karakter warga negara Indonesia yang sangat toleran.

Saya tidak juga anti Agama diluar agama yang saya yakini, Saya tidak membenci Kitab Injil dan Taurat bahkan saya mengakui kedua kitab tersebut juga termasuk dua Kitab yang diturunkan dari Dua Agama Samawa (Langit).

Tapi kenapa, setelah toleransi kami yang begitu tinggi, dengan mudahnya seorang manusia berani berkata yang menyinggung, RASIS sekali.

Hari ini, hari bersejarah bagiku, saat idealismeku memuncak ketika kuliah, setiap ada teman mahasiswa yang demo, sama sekali saya ndak pernah tertarik dengan kegiatan demo, karna saya tahu, ndak terlalu berguna bagi saya yang pertama, dan kedua bisa saja demo ini tidak terlalu mempunyai tujuan yang jelas ataupun kurang bermakna. Namun, karena ini Agama Saya yang disindir, apa saya hanya mendukung dengan do’a atau hanya acuh saja? Tidak, saya tidak ingin disebut selamah-lemahnya Iman, Akupun bergabung dan melakukan aksi demonstrasi ini.

Saya sangat acuh dengan kata2, demo bayaran, sehingga saya menganggap apapun demo itu entah bayaran atau tidak bayaran tetap saja namanya demo, hanya saja teknisnya yang berbeda. Bagi yang menjadi peserta aksi demo bayaran mereka hanya dimanfaatkan ataupun sedang mengalami simbiosis mutualisme karena siapa yang mengayomi ya itu yang dibela dan bagi yang militan, mereka hanya menginginkan sebuah perubahan saja.

Hari ini tanggal 4 November 2016, beberapa Umat Muslim di Indonesia sedang menggunakan Hak Konstitusinya dalam menentang Ketidakadilan yang terjadi. Ada beberapa yang ingin saya ungkapkan kenapa saya harus demo

Pertama, Saya tidak ingin ada penistaan Agama lagi, setelah ini, ketika hal ini dibiarkan sekali saja, selanjutnya akan adalagi kejadian yang serupa bahkan lebih parah, pun bagi agama-agama lain

Kedua, Saya tidak rela, karna saya menganggap kitab Al Qur’an kami dirasiskan, sangat SARA dan berani sekali ketika ada seorang manusia yang berani berkata yang kurang lebih adalah,”Al Qur’an harus taat pada aturan konstitusi” ini apaan, Setan/ Iblis saja tidak berani, toh kalaupun setan iblis terlihat jahat, mereka pada hakikatnya hanya membujuk, tapi tetap beriman pada Allah SWT.

Saya anggap ketika orang tua anda, saudara sedarah anda ataupun suami/ istri anda dilecehkan apakah rela?, Saya tidak bermaksud menyetarakan Al Qur’an dengan Makhluk, ini hanya analogi yang memudahkan untuk dipahami, ketika anda benar-benar mencintai mereka, anda pasti melakukan sesuatu untuk membelanya.

Akan tetapi, saya sangat menghargai pilihan setiap manusia, karna mereka memiliki pemikiran sendiri, keadaan yang berbeda-beda, sehingga belum tentu yang ikut demo adalah yang baik, karna yang tidak demo pun juga baik karna dengan do’anya yang tulus bisa merubah segalanya, aamiin. Yang tidak baik adalah ketika diam saja ataupun merasa bukan urusannya, tetapi memang tidak semua tidak perlu dipahami :’)

Dan Ketiga, Saya tidak menghendaki warga negara yang kebal hukum, bukan berarti yang melanggar hukum orang yang dekat dengan penguasa atau pejabat sehingga tidak bisa dijerat.

Karna 3 hal inilah yang mendasari kenapa saya harus turun ke jalan, karena bila dengan tangan kita mampu melakukan, itu terbaik, kalau tidak mampu cukup dengan do’at, lalu saya pikir sepertinya saya siap untuk yang terbaik, menurut Ijtihad pemahaman saya tentang agama (jalan hidup) ini.

Bila saja, sesaat setelah terjadi pelanggaran hukum langsung di atasi melalui jalur hukum, mungkin negara tidak terlalu banyak-banyak buang tenaga, waktu dan anggaran untuk pengamanan demo hari ini, gara-gara lidah yang tak bertulang negara banyak dirugikan.


Black Campaign?

Ini adalah soal sudut pandang, darimana pembaca semua memandang dari situlah paradigma membentuk pemahaman. Bila demo ini disinyalir untuk menjegal ataupun melengserkan sebuah jabatan seseorang manusia, ini hanya masalah waktu, atas taqdir Allah kejadian ini terjadi disaat seperti ini. Wahai Bapak Presiden kami meminta ketegasan anda dalam menegakkan keadilan di bumi pertiwi ini, sudah banyak bukti kenapa tidak segera di berlakukan hukum yang adil dan bermartabat? Wahai Bapak Presiden, Bapak Kapolri selaku orang yang diamanahi mengurusi ketertiban negara ini akan segera mengurus ini ketika anda segera memberikan mandat untuknya membereskan kepelikan yang sedang terjadi.

Bila mungkin demo tadi ada penyusup yang memanfaatkan untuk politik praktis semoga segera diberi hidayah, bila demo tadi ada mata-mata atau provokasi untuk memecah belah NKRI semoga segera disadarkanNya, . . .ini semua diluar kendali kami, kami sudah berusaha sekondusif mungkin dan serapi mungkin tanpa huru-hara aura politik negara maupun desas-desus memecah ukhuwah umat.


Lalu apakah ini termasuk Kampanye Hitam? Bagi sebagian yang lain mungkin iya, bagi saya, hanyalah mencari keadilan saja, karna saya hanya seonggok daging yang masih bodoh tentang agama yang saya yakini dan hanya rakyat yang tidak punya wewenang apa-apa, hanya demo yang bisa saya lakukan, bersama-sama mereka yang masih memiliki rasa cemburu yang kuat bagi kehormatan agamanya.

Sang Penulis Bersama Forum Komunitas Umat Islam Bersatu Ponorogo



 Semoga NKRI tetap harga MATI, ya semoga bukan Fasisme yang terjadi
Reactions:

0 comments: