Koleksi Buku, dari Hobi Menjadi Bisnis

Buku adalah jendela dunia yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan seseorang.  Buku membantu kita dalam segala hal tentang pengetahuan . Misalnya saja, dengan buku kita dapat berwisata tanpa harus mendatangi dan mengunjungi  suatu tempat, cukup dengan membaca, memahami dan menikmati isi yang ada di buku. Dengan buku semua hal yang ingin kita ketahui dapat kita peroleh dengan mencari referensi atau judul buku yang kita butuhkan.

Sumber : google.com


Kegiatan membaca dan membeli buku tidak menutup kemungkinan berubah menjadi hobi mengoleksi buku. Dari buku yang sebelumnya hanya  iseng-iseng beli satu per satu untuk dibaca  sendiri, lama-kelamaan  terus bertambah. Setelah koleksi bertambah banyak, apa yang harus dilakukan dengan buku-buku tersebut?
Buku-buku yang tidak terpakai, bisa saja didonasikan atau diberikan kepada pihak lain yang membutuhkan, misalnya perpustakaan desa, atau perpustakaan anak-anak yang tidak mampu. Akan tetapi, jika koleksi buku dianggap sayang untuk didonasikan, bisa saja disusun atau diarahkan menjadi semacam perpustakaan pribadi.

Untuk membuat perpustakaan pribadi, buku bukan hanya dikumpulkan dan ditata rapi dalam suatu ruangan, tetapi memerlukan pengelolaan sendiri. Di dalamnya termasuk cara merawat buku dan identifikasi agar memudahkan ketika kita membutuhkannya.

Hekmi, mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyarankan untuk merawat koleksi buku dengan manajemen perpustakaan mini, misalnya dengan meyusun buku dalam rak khusus. “Kalau bisa, raknya lebih tinggi dari lantai supaya tidak lembab dan mudah rusak, dan tidak dijangkau oleh anak kecil,” katanya. Ia menambahkan agar buku disampul dengan plastik supaya tidak mudah kotor dan terkena debu.  Hal lain yang tak kalah penting, adalah membuat katalog untuk mengidentifikasi jenis buku, ”Katalog diperlukan agar lebih mudah ketika mencari sebuah buku,” tambahnya.



Bisnis

Tidak sedikit pencinta buku yang ingin berbagi, sehingga terkadang banyak yang menyalurkan hobinya ini dengan meminjamkan bukunya. Bahkan ada yang kemudian melihatnya sebagai peluang bisnis, yakni dengan membuka persewaan atau rental buku.

Untuk memulai bisnis persewaan buku, bisa diawali dengan pengelolaan sederhana. Hekmi mencontohkan, bila ada yang meminjam, ia menyarankan agar si peminjam meninggalkan identitas dan memberi tenggang waktu pengembalian, “Kalau masa tenggang sudah lewat, beri toleransi waktu selama tiga hari,” ujarnya. Ketika buku yang dipinjamkan  sudah melewati batas tenggang, buku harus diambil ke alamat atau tempat tinggal peminjam, “Bila perlu berikan sanksi berupa denda kepada peminjam, misalnya Rp. 500 per  buku dan dihitung per hari,” pungkasnya.

Lain halnya dengan Zamiratul Laely yang sudah menekuni bisnis persewaan buku ini dengan lebih serius. Ia mengaku, bisnisnya dimulai dari hobi membaca dan mengoleksi buku. Siapa sangka yang tadinya hanya membeli buku – buku bacaan untuk sekedar hiburan dan mengisi waktu luang, berubah menjadi bisnis yang menjanjikan. Koleksi buku-bukunya, seperti buku fiksi, non fiksi, antologi cerpen, puisi, humor, prosa dan lain-lain disewakan kepada teman-temannya dari ruangan kost yang diubahnya menjadi tempat persewaan, “Antusias penyewa lumayan cukup banyak,” ujarnya.



Awlanya memang tidak mudah dalam menjalankan persewaan bukunya. Kendala yang dihadapi antara lain para peminjam yang tidak tepat waktu dalam mengembalikan buku atau kurangnya koleksi buku yang dimilikinya. Tapi menurutnya, kendala itu tidak menjadi halangan, “Penyewaan buku yang besar saja masih ada kendalanya, apalagi seperti saya yang baru memulai membuka penyewaan buku” kata pemilik persewaan buku Zamie ini.

Sementara itu M. Shalahudin, pemilik rental buku di kawasan Sapen, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta punya alasan lain. Ia membuka rental buku karena menurutnya buku merupakan sumber referensi tertulis yang legal diakui dalam dunia akademis. Oleh karena itu ia tetap optimis rental bukunya tetap eksis ditengah gencarnya arus teknologi informasi seperti internet. Menurutnya, perpustakaan kecil seperti rental buku tidak lantas kehilangan peminatnya. Masih banyak rental buku yang tetap diminati oleh mahasiswa untuk mencari referensi tugas kampus. “Mahasiswa masih banyak yang membutuhkan referensi buku selain yang berasal dari perpustakaan,” kata pemilik rental buku ‘Al Fathin’ ini.

Hal ini dibenarkan oleh M. Rezansyah, bahwa feel dalam mencari ilmu tetap ada pada buku. Entah itu buku yang dipinjam dari perpustakaan maupun buku yang disewa. “Berbeda rasanya apabila belajar di depan komputer dengan langsung dari buku sebagai sumber ilmu. Makanya, saya tetap lebih suka membaca buku, baik yang dipinjam dari perpustakaan, maupun dari rental buku,” kata mahasiswa jurusan teknik elekto UGM ini. “

Sulistyantoro Pangarso, menanggapi positif keberadaan persewaan buku tersebut. Menurutnya, dengan adanya tempat penyewaan atau rental buku ini dapat membantu mahasiswa dalam memperoleh referensi buku tambahan yang didapat selain dari perpustakaan. “Apalagi jika persewaan tersebut berada di daerah yang jauh dari perpustakaan atau akses internet,” kata Wakil Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hanya saja, Sulistyantoro menyarankan adanya kontrol terhadap persewaan semacam ini, terutama terhadap peminjam dari kalangan anak-anak, “Jangan sampai anak kecil bisa meminjam buku bacaan yang sebetulnya untuk orang dewasa!” tutupnya. (Tim UIN Suka)
Reactions:

0 comments: