Mari Mengunjungi Museum

Belajar dari Sejarah 

Sejarah merupakan salah satu pintu untuk memahami jati diri sebuah bangsa. Karena identitas bangsa tergambar jelas dalam sejarahnya. Bukan sekedar kenangan masa lalu, lebih dari itu sejarah merupakan titik tolak untuk lebih bijak dalam menatap masa depan. Sejarah bisa menolong kita agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.

Untuk mempelajari sejarah, salah satunya dengan mengunjungi museum. Museum berfungsi sebagai gudang dokumentasi yang sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui sejarahnya. Menurut Koeswinarno, Dosen Antropologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, museum memiliki dua fungsi pokok, yakni sebagai acuan untuk melihat realitas ke depan dan sebagai formula menjaga kelestarian budaya.

Sayangnya, saat ini, museum semakin tidak diperhatikan. Kesadaran masyarakat untuk mengunjunginya masih sangat minim. Sehingga setiap hari, suasana sepi terlihat hampir di semua museum, termasuk di Yogyakarta. Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan minimnya pengunjung museum. “Pertama, karena museum diposisikan sebagai ‘gudang’ sejarah dan tidak diaktualisasikan secara baik oleh pemerintah, sehingga masyarakat pun kurang tertarik untuk mengunjunginya. Kedua, pada prinsipnya sesorang tidak suka membicarakan masa lalu, orang lebih suka untuk membicarakan masa depan. Sehingga museum sebagai tempat untuk menilik kembali sejarah tidak diminati lagi,” paparnya.

“Museum sekarang sudah nggak menarik lagi buat anak-anak jaman sekarang,” kata Sherlyta, siswi kelas tiga SMP ini ketika ditemui di museum Perjuangan Yogyakarta. Ia mengungkapkan, tujuannya mengunjungi museum hanya untuk sekedar iseng saja. Begitu juga dengan Aji Digdaya, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku, dirinya mengunjungi museum hanya ketika ada tugas kuliah saja.

Kurangnya minat masyarakat mengunjungi museum bagi kebanyakan orang mungkin bukan masalah. Tapi tidak bagi Suyatno. Penjaga museum Kareta Karaton Yogyakarta ini mengungkapkan, dirinya merasa miris ketika museumnya sepi pengunjung. Museum yang dijaganya hanya ramai dikunjungi hanya ketika liburan sekolah saja. Sedang pada hari-hari biasa, pengunjung cenderung sepi.

Di samping sepinya pengunjung, Suyatno juga mengeluhkan masalah biaya perawatan benda-benda koleksinya. Menurutnya, tidak ada dana tetap dari pemerintah. Selama ini, jika ada koleksi museum yang rusak, pihak museum hanya mengajukan datanya ke Sultan. “Kalo Sultan menerima, ya Sultan memberi dana untuk perbaikan,” ujar pria yang sudah bertugas sejak tahun 1985 ini.




Klasik


Minimnya ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi museum adalah masalah klasik, jelas Agus Murdiyastomo, Dosen Pendidikan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di kota yang terkenal sebagai Kota Pendidikan ini saja, para pelajar dan mahasiswanya belum sadar akan pentingnya mengunjungi museum. “Justru yang banyak itu malah pelajar dari luar Jogja. Seperti Palembang, NTT, dan kota-kota lain,” jelasnya.

Sebagai pengelola Museum Pendidikan Indonesia UNY, Agus mengaku punya cara khusus untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya museum. Salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Hal terpenting adalah makna benda-benda itu. Karena itu, peran museum sangatlah penting.

Dalam pandangan sastrawan Iman Budi Santoso, fenomena sepinya museum adalah akibat dari sifat dasar manusia yang selalu ingin maju. “Setiap hari orang sibuk meriset masa depan, tapi sayangnya mereka sukar menoleh ke belakang. Museum itu bagian dari kegiatan menoleh ke belakang tersebut,” paparnya. Cara pandang yang seperti di atas adalah salah, tegas penulis yang telah melahirkan puluhan buku ini. “Kita boleh mengejar angan-angan ke depan, tapi kita harus tahu dari mana kita melangkah. Menilik sejarah adalah upaya berintrospeksi. Dan hanya dengan instrokpeksi kita bisa tahu sampai mana kita melangkah!” (Tim UIN Suka).







Sejarah Adalah Ibu Kita

Masih terngiang bagaimana Proklamator kita, Bung Karno, mewanti-wanti seluruh bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarahnya. Lewat ungkapan ‘Jangan sampai melupakan sejarah’ atau lebih dikenal dengan singkatan ‘Jasmerah’ Soekarno memberi pemahaman pentingnya mengingat sejarah. Dengan sejarah kita bisa menentukan arah. Layaknya seorang ibu, sejarahlah yang memberikan petuah-petuah dan pelajaran-pelajaran dari masa lalu untuk kita jadikan pertimbangan melangkah ke masa depan.

Akan tetapi, menurut sastrawan Iman Budi Santosa, seandainya sejarah adalah sosok manusia, mungkin saat ini ia sedang menangis, karena melihat anak yang dulu ia lahirkan mendurhakainya. “Kita, adalah anak-anak sejarah yang terlalu asyik berlari ke depan, hingga kita lupa meninggalkan ibu yang telah tua berjalan tertatih jauh di belakang. Dan kesalahan terbesar kita, kita tidak lagi menganggap ibu kita penting,” tegasnya.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat sekarang yang enggan mengunjungi museum. “Museum sebagai gudang dokumentasi sejarah hanya dianggap sebagai sampah peradaban. Padahal, disanalah ibu kita yang bernama sejarah itu menitipkan baju-baju kebudayaanya,” gugatnya. Akibatnya, saat ini kita pun menjadi orang yang kehilangan jati diri. Masyarakat cenderung apresiatif terhadap kebudayaan-kebudayaan asing, sedang dengan kebudayaan sendiri mereka tidak mengerti. “Jika hal ini masih berlanjut, maka kita akan semakin ‘telanjang’ di rumah sendiri,” papar pria kelahiran 28 Maret 1948 ini.


Iman juga menambahkan, saat ini kita harus sesegera mungkin ‘menjemput’ ibu kita yang tertinggal, dan mengenakan baju kita yang dibawanya. Atau, jika kita menganggap baju kebudayaan itu telah usang, sebagai pemilik minimal kita harus memahaminya, agar tidak lupa pada jati diri. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengambil ‘baju’ itu, salah satunya adalah dengan mengunjungi museum. “Karena dengan mengunjungi museum, kita seperti kembali ke pangkuan ibu kita,” pungkasnya. (Tim UIN Suka)

Reactions:

2 comments: