Perlukah Senyum, Salam, dan Sapa?

Manusia sebagai makhluk sosial tentulah memerlukan orang lain untuk saling membantu dan tolong-menolong untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal tersebut dapat tercapai dengan adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Untuk membentuk hubungan yang harmonis tersebut perlu adanya pola komunikasi yang baik bisa di awali dengan mengenal lebih dekat antar sesama kita.
 
Dalam masyarakat kita, ada istilah “tak kenal maka tak sayang” yang artinya jika kita tidak mengerti dan mengenal seseorang dengan baik maka kita tidak mendapat kasih sayang yang kita harapkan. Setelah kita mengenal lebih dalam kita perlu memupuknya agar hubungan kita semakin “mesra” dengan saling bertutur sapa ketika bertemu dengan senyuman yang paling indah yang kemudian di kenal dengan istilah senyum, salam, sapa atau yang biasa di singkat dengan 3S.

Menurut Mawadah, mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, penting sekali untuk membudayakan senyum, salam, dan sapa. Hal ini karena 3S sangat berperan dalam membentuk lingkungan sosial yang kondusif. “senyum, salam, dan sapa sebagai bentuk pencitraan bahwa seseorang itu ramah,” katanya. Sikap seperti ini sangat dianjurkan untuk dilakukan dalam situasi apapun, dimanapun, dan kapanpun seseorang berada. Menurutnya dengan sikap 3S ini akan timbul suasana akrab, baik di kalangan anak kecil, muda-mudi, maupun orang tua.

Senyum, salam, dan sapa merupakan sebuah rangkaian saling tegur sapa antar sesama. Dalam konteksnya 3S dilakukan oleh orang yang saling mengenal. Menurut Jurna Dadang Irawan, budaya 3S ini hanya terjadi pada orang yang saling mengenal. “Apabila sikap 3S ini dilakukan kepada siapa saja, maka akan terlihat aneh,” ungkapnya. Diakui oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ini bahwa sulit bagi seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan untuk membudayakan 3S di lingkungan kampus. Padahal, salah satu upaya menciptakan suasana kampus yang ramah dan nyaman yaitu dengan melestarikan kebiasaan senyum, salam, dan sapa. “Kemungkinan karena sikap individual yang tinggi sehingga kita sulit untuk membudayakan 3S,” akunya. 


Interaksi Sosial


Menurut peneliti sosial Wahyu Kustiningsih, bahwa 3S diperlukan untuk memperat hubungan sosial. Agar tercipta lingkungan masyarakat yang harmonis, maka 3S perlu diterapkan. Namun, tidak perlu ngoyo dalam mewujudkan 3S. 3S akan tercipta dengan sendirinya ketika tidak ada prasangka negatif dari seseorang. Setidaknya tujuan dari 3S dapat mencegah dan memperkecil konflik sosial yang bersifat kekerasan. “Konflik memang diperlukan sebab hal terebut menunjukkan bahwa masyarakat bergerak dinamis, tetapi apabila mengarah pada kekerasan, maka perlu dihindari” ujarnya.

Baginya, 3S merupakan awal strategi dalam berinteraksi antar individu. Bermula dari interaksi dan pertukaran antar sesama, maka akan tercipta jejaring sosial. Jejaring sosial ini merupakan modal dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Serupa dengan Wahyu, Warsino M.Pd, selaku pendidik menjelaskan bahwa 3S merupakan salah satu bentuk interaksi sosial seseorang ketika berjumpa dengan orang lain. 3S juga merupakan nilai universal sebagai bentuk perwujudan bahwa manusia itu sama atau sederajad. “3S diperlukan dalam rangka hablu minannas atau menciptakan hubungan baik sesama manusia,” tuturnya.

Dalam pemaparannya diungkapkan bahwa 3S sangat perlu diterapkan dalam kehidupan dalam rangka menebar kedamaian dengan sesama manusia, 3S perlu dibudayakan supaya menjadi bagian dari “karakter baik” manusia, sehingga kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun karakter itu telah menjadi kebiasaan yang enjoy untuk dilaksanakan, bukan sekedar kamuflase yang mudah berubah menurut situasi dan kondisi tertentu.

Penerapan 3S dulu dengan sekarang memang tampak berbeda. Semakin modern, semakin terkikis budaya 3S. Bisa jadi hal ini karena kurangnya pendidikan budi pekerti di tingkat keluarga. Orang tua terlalu sibuk sehingga tidak terlalu peduli dengan nilai budi pekerti. Cara membudayakan kembali melalui sektor pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal  maupun dalam keluarga. “Hal yang utama dalam menanamkan sikap 3S pada anak adalah dengan memberikan teladan kepada mereka, sambil dipahamkan apa untung dan manfaatnya,” terangnya.



Warsono juga menandaskan bahwa 3S semestinya ditanamkan kepada setiap insan sedini mungkin, kalau mahasiswa sekarang dikatakan 3S-nya mulai luntur berarti ada yang error  pada pendidikan kita, oleh karena itu pendidikan kita perlu dibenahi. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan dan mulailah kebaikan itu dari diri sendiri.

Sosok yang mengaku terinspirasi dari  tayangan ‘Mario Teguh Golden Ways’ pun mengutip satu tagline “Jadilah mahasiswa yang cerdas sosial dengan mengimplementasikan 3S sebagai wahana berinteraksi dengan orang lain. Dengan 3S interaksi sosial akan berlangsung lebih nyaman, lebih mudah membuat jaringan baru dan 3S merupakan salah satu aspek kecerdasan sosial yang berpengaruh positif pada prestasi,” tutupnya. (Tim UIN Suka)




3S SEBAGAI MODAL SOSIAL


Dalam masyarakat Jawa, budaya senyum, salam, dan sapa (3S) ditempatkan sebagai  kearifan lokal. Namun, tidak dipungkiri bahwa kearifan lokal masing-masing daerah berbeda. 3S sebagai kearifan lokal Jawa belum tentu disepakati oleh masyarakat dari luar Jawa. Terlebih di Yogyakarta dengan masyarakat yang multikultural. “Banyak mahasiswa dari luar daerah di sini. Apabila 3S dipaksakan untuk diadopsi, hal ini bisa jadi mengikis budaya asal,” tutur Wahyu Kustiningsih, peneliti independen bidang sosial ini.

Bagi pemuda, 3S dapat digunakan sebagai awal untuk meningkatkan prestasi. Diawali dari keramahan sikap lalu terjadi suasana akrab, saling bertukar informasi, berkomunikasi lebih lanjut dan sharing pengetahuan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan meningkatkan prestasi. Namun, hal ini tergantung dari individunya. “Apabila mampu memanfaatkan 3S dengan baik, maka dapat mengubah kecerdasan sosial menjadi prestasi. Sebaliknya, apabila tidak mampu memanfaatkan secara optimal, maka 3S hanya berhenti sebagai sarana kecerdasan sosial saja,” ungkapnya.



Selain perbedaan budaya, kemungkinan lunturnya tradisi 3S di kalangan mahasiswa karena media online. Media online membentuk pemuda menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, baik di area tempat tinggal maupun di area kampus. Namun, terjadinya pergeseran budaya 3S dari dunia nyata ke virtual bukan lantas salah dari pemuda saja. Bisa jadi karena tidak banyak teladan dari dosen yang menerapkan 3S maupun tidak tersedianya ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikannya sehingga sedikit demi sedikit budaya 3S terkikis. Selain itu, kepentingan masyarakat akan ekonomi yang tinggi di perkotaan, bisa jadi faktor melemahnya 3S.

Menurut peneliti di bidang sosial yang juga mahasiswa S2 Sosiologi UGM ini menyatakan, bahwa penting untuk menguri-uri budaya 3S. Hal ini karena dengan 3S merupakan modal sosial bagi semua orang. “Dengan 3S kita dapat mempererat hubungan sosial, tercipta interaksi yang positif, dan menciptakan jejaring sosial yang luas,” tutupnya. (Tim UIN Suka)

Reactions:

2 comments: