Tergusurnya Budaya Bersepeda

Sekarang, masyarakat Indonesia telah memasuki zaman yang sama sekali berbeda. Perkembangan tekhnologi meninabobokan semua orang, hingga tanpa disadari mengakibatkan pergeseran budaya secara besar-besaran. Salah satunya di bidang transportasi, khususnya sepeda.

Dulu, kita masih melihat sepeda memenuhi jalan di kota-kota, termasuk Yogyakarta. Di kota ini, semua kalangan mulai dari pegawai, pelajar, mahasiswa, hingga penjual sayur menggunakan alat transportasi tersebut sebagai penunjang aktivitasnya. Tapi setelah memasuki tahun 2000-an, keberadaan sepeda mulai tergeser oleh sepeda motor. Promo besar-besaran dan sistem kredit murah yang dijalankan dealer-dealer sepeda motor, memudahkan masyarakat untuk memilikinya. Alhasil, dalam dasawarsa terakhir, sepeda hampir tidak lagi diminati.

Sulistyaningsih, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, mengaku prihatin dengan fenomena ini. Dosen yang sesekali menggunakan sepeda ke kampusnya ini, pernah mengalami kejadian yang sempat membuatnya jera menggunakan sepeda. “Waktu kuliah, saya pernah trauma menggunakan sepeda gara-gara mau diserempet motor. Tapi ada satu hal yang membuat saya semangat lagi bersepeda ke kampus, karena bagi saya setiap tetesan keringat adalah semangat mencari keilmuan,” tuturnya.

Sulis  berpendapat, ada dua faktor  yang mempengaruhi masyarakat untuk beralih dari sepeda ke sepeda motor. Pertama, adanya pergeseran fungsi sosial ekonomi yang menuntut orang untuk beraktivitas lebih cepat. Kedua, adanya tuntutan sosial budaya yang menjadikan sepeda motor sebagai simbol statusnya.

Pendapat di atas dibenarkan Nuruz Zahro. Mahasiswi Poltekes Kemenkes Yogyakarta ini mengaku lebih memilih menggunakan sepeda motor karena lebih cepat, aman, dan nyaman,  meskipun dari rumah kos ke kampusnya dapat dicapai dengan sepeda. “Memakai sepeda motor lebih praktis dan cepat, apalagi sebagai mahasiswa kegiatan saya cukup padat,” ungkapnya.

Bagi sebagian besar masyarakat seperti Nuruz, hadirnya sepeda motor sangatlah menunjang kegiatanya. Tetapi, bagi kalangan lain, tergesernya sepeda bukanlah kabar baik. Haryono Arif (58) misalnya, mengaku menurunnya pengguna sepeda adalah pukulan bagi dirinya. Sebagai penjual sepeda, peralihan dari sepeda ke sepeda motor berpengaruh terhadap usahanya. “Penjualan sepeda sekarang cenderung menurun, tidak seperti beberapa puluh tahun lalu,” ujar pria yang telah membuka usahanya sejak tahun 1977 itu. Untungnya, masih ada jenis sepeda yang mulai diminati kalangan pelajar dan mahasiswa, yakni sepeda jenis fixed. “Tapi, naiknya penjualan sepeda jenis ini tergantung trend dan musiman, seperti sepeda BMX yang dulu sempat digemari,” jelas Haryono.



Hal ini diakui Iwan, seorang penggemar sepeda fixed. Dirinya mengungkapkan, minatnya utuk menggunakan sepeda memang hanya untuk mengikuti trend. “Paling saya pakai ketika nongkrong atau jalan-jalan bersama teman,” jelas mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta ini. Sedang untuk transportasi utama, dirinya mengaku lebih memilih memakai sepeda motor.

Pengakuan serupa juga dikemukakan oleh Nurul Hidayatun. Meski mahasiswi Akademi Teknik Kulit Yogyakarta ini masih setia menggunakan sepeda, ia mengaku sebenarnya lebih tertarik pada sepeda motor. “Naik sepeda kan lebih murah, soalnya nggak pakai bensin. Tapi kalau disuruh memilih, saya lebih senang pakai motor karena lebih cepat,” ujarnya.




Kemajuan atau Kemunduran

Adaby Darban, dosen Sejarah Universitas Gadjah Mada menjelaskan, sepeda mulai masuk ke Yogyakarta sekitar tahun 50-an. Sejak saat itu, sepeda berkembang menjadi alat transportasi utama, sebelum kemudian pada masa Orde Baru sepeda motor mulai masuk dan perlahan menggusur keberadaan sepeda.
Dari sisi teknologi, Adaby memandang hal ini sebagai sebuah kemajuan. Meski memang ada dampak yang ditimbulkannya, seperti pencemaran lingkungan dan meningkatnya angka kecelakaan. “Jadi ini bukan soal kemajuan atau kemunduran. Ini lebih pada dampak industrialisasi,” jelasnya.

Berbeda dengan Adaby, sastrawan Joni Ariadinata mengungkapkan, fenomena tergusurnya sepeda pada hakikatnya tidak bisa dipandang sebagai kemajuan. Sebab, dengan semakin padatnya jalanan oleh kendaraan-kendaraan pribadi semacam itu, berakibat pada rusaknya tata kota. ”Lihat di Jakarta, orang sudah tidak lagi bisa berjalan karena padatnya kendaraan,” jelasnya.

Maka menurutnya, jika pemerintah tidak memberi perhatian, beberapa tahun lagi wajah Yogyakarta tidak akan jauh berbeda dengan Jakarta. Untuk itu, ia berharap pemerintah segera memberikan fasilitas seperti jalur khusus sepeda. “Bukan sekadar kampanye mingguan yang syarat kepentingan politis!” imbuhnya. Tim UIN Suka.



Joni Ariadinata, Sastrawan:

“Negara Tidak Manusiawi Terhadap Sepeda”

Sepeda makin terpinggirkan di Yogyakarta. Dahulu, kendaraan roda dua ramah lingkungan ini memenuhi jalanan kota. Suasana nyaman dan masih minimnya kendaraan bermotor yang kemudian menjadikan Yogya dijuluki Kota Sepeda disamping sebutan Kota Pelajar dan Kota Budaya. Kini, pemandangan tersebut kian jarang ditemukan, para pelajar dan mahasiswa lebih suka menggunakan sepeda motor untuk beraktifitas.

Budaya bersepeda tergusur oleh tuntutan kebutuhan dan gaya hidup. Selain itu salah satu penyebab berkurangnya pengguna sepeda saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang tidak ‘ramah sepeda.’ Demikian dikatakan Joni Ariadinata, sastrawan yang sudah lebih dari dua puluh tahun tinggal di Yogyakarta. menurutnya negara bersikap tidak manusiawi terhadap sepeda. “Seandainya negara bersikap manusiawi, keadaan tidak akan seburuk saat ini!” ujarnya.


Orang yang masih menggunakan sepeda saat ini, menurut Joni harus siap mempertaruhkan keselamatannya. “Coba saja Anda pakai sepeda, ketika di lampu merah, Anda pasti terteror. Bahkan Anda yang tidak salah apa-apa bisa-bisa dianggap brengsek karena menghalangi sepeda motor dan mobil yang ingin melesat cepat,” paparnya. “Selain itu jika naik angkutan kota, sudah mahal, tidak nyaman, dan keamanannya juga tidak terjamin. Jadi, jangan kaget bila orang lebih memilih kendaraan pribadi seperti sepeda motor.”

Joni mencontohkan, di negara-negara yang jauh lebih maju seperti di Eropa, pemerintahnya menerapkan pajak kendaraan pribadi sangat tinggi. Jadi masyarakat akan berpikir berkali-kali untuk memiliki mobil. Belum lagi jika ditambah dengan biaya fasilitas penunjang seperti tempat parkir dan garasi yang juga mahal. Karena itu, sepeda menjadi alat transportasi yang digemari masyarakat. Dosen dan mahasiswa ke kampus naik sepeda, begitu juga pelajar dan pegawai. Di samping murah dan ramah lingkungan, pemerintahnya juga memberikan fasilitas yang nyaman dan aman, seperti jalur khusus sepeda yang tidak boleh dilewati kendaraan lain.

Di Indonesia, menurut Joni, kampanye penggunaan sepeda baru sebatas kepentingan politis, belum ada upaya nyata untuk mewujudkannya. Presiden Cerpenis Indonesia ini mengaku masygul bila pemerintah menghimbau masyarakatnya untuk kembali menggunakan sepeda tanpa memberikan fasilitas yang memadai. “Maka, bersabarlah sampai kota ini meledak, baru orang akan berpikir menggunakan sepeda kembali!” tutup Joni. Tim UIN Suka
Reactions:

0 comments: